Teori Organisasi: Sejarah dan Perkembangannya
Revolusi industri pertama yang ditandai dengan penemuan alat penenun mekanik dan mesi uap diakui telah membuat perubahan besar dalam kehidupan manusia.Sentuhan teknologi dalam penemuan-penemuan berikutnya mengubah pola kerja dari alami yang awalnya dilakukan dengan tenaga manusia dan hewan beralih ke mesin mekanis yang lebih menjadi lebih modern, sehingga dalam memproduksi suatu barang semakin cepat.
Penciptaan kereta uap disertai dengan Pembangunan jalur kereta di Eropa dan Amerika pada pertengah abad ke-17 juga sangat membantu pelaku industri mendistribusikan barang hasil produksi ke berbagai tempat dan sebaliknya dengan mudah menerima bahan baku produk.
Perpaduan ini menjadi penanda bahwa revolusi industri sangat berpengaruh terhadap berbagai bidang terutama dalam bidang usaha. Revolusi Industri ini membawa dampak yang lebih besar dan positif dalam suatu kehidupan masyarakat baik itu dalam sosial dan budaya, ekonomi, Teknologi (Fajariah & Suryo, 2020).
Perkembangan sektor usaha menjadikan para praktisi dan ahli dalam ilmu pengetahuan tertarik mempelajari bagaiamana organisasi perusahaan berjalan dengan baik dan efektif, sehingga muncul teori-teori tentang organisasi dari periode klasik sampai ke modern.
TEORI ORGANISASI KLASIK
Kejadian revolusi industri menjadi tonggak awal munculnya teori organisasi, Dimana pada awal perkembangannya disebut dengan Teori Klasik yang percaya bahwa organisasi yang baik hanya Ketika pada kekuatan kontrol, keteraturan, dan formalitas (Armstrong, 2006). Adapun tokoh-tokoh dan teorinya adalah sebagai berikut:
Fredric W Taylor, seorang insinyur mesin pada Perusahaan Midvale & Bethlehem Steel Pennsylvania, menurut Robbins(1990:38) teori ini mengutamakan pada cara-cara ilmiah (Scientific Management) untuk menghasilkan produktivitas yang tinggi dalam organisasi. Caranya yaitu 1) mengganti metode perkiraan untuk menentukan setiap elemen pekerjaan seorang pegawai dengan metode ilmiah, 2) Seleksi dan pelatihan para pekerja dengan cara yang ilmiah 3) Kerjasama antara manajemen dan pegawai dalam menyeleaikan tujuan pekerjaan dengan cara yang ilmiah 4) Pembagian tanggung jawab yang lebih merata diantara manajer dan pekerja, yaitu pihak pertama(manajer) sebagai perencana dan pengawasan sedangkan pihak kedua(pkerja) sebagai pelaksana.
Teori manajemen ilmiah diadopsi oleh perusahaan industri otomotif yang melakukan produksi massal mesin mobil yang besar yaitu prdusen mobil Ford milik Henry Ford. Dari studi menunjukan bahwa keterampilan pendidikan yang ditentukan dengan cermat, mobil sekarang dibuat dengan produksi massal dalam prosedur tetap layaknya kerja sebuah mesin (Laegaard, 2006).
Henry Fayol, memperkenalkan empat belas (14) prinsip organisasi (Administrative theory), yaitu:
- Pembagian kerja, berbentuk spesialisasi pekerjaan yang akan menambah hsil kerja dengan cara yang lebih efisien.
- Manajer memiliki wewenang untuk memberikan perintah. Wewenang berjalan seiring dengan tanggung jawab
- Setiap pegawai harus menunjukkan sikap disiplin dan patuh pada aturan yang berlaku di dalam organisasi.
- Pegawai sebaiknya menerima perintah dari satu atasan saja, tidak mendapatkan instruksi dari banyak arah
- Seorang manajer sebaiknya memiliki strategi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai
- Mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan individu
- Remunerasi bekerja sesuai dengan jasa yang diberikan
- Memperhatikan persentase sejauhmana bawahan dapat dilibatkan dalam proses pengambilan Keputusan
- Memperhatikan garis wewenang dari manajemen puncak hingga ke tingkat yang paling rendah
- Menempatkan staf pada posisi yang sesuai dengan potensi dan kompetensinya
- Memegang prinsip keadilan bagi bawahan
- Manajemen sebaiknya merencanakan seleksi dan rekrutmen dengan baik untuk mengisi kekosongan staf. Turn over yang tinggi akan sangat tidak efisien bagi organisasi
- Pegawai diperbolehkan untuk mengajukan ide-ide kreatif walaupun terbatas.
- Penting untuk mendorong semangat kerja tim untuk bekerja di dalam organisasi
Max Weber, konsep birokrasi (bureaucratic) yang ia anggap sebagai model yang paling efisien dan efektif untuk organisasi dengan kompleksitas tinggi seperti pemerintah dan militer. Struktur ini memiliki ciri adanya pembagian kerja, adanya hirarki wewenang yang jelas, prosedur seleksi yang formal, peraturan yang ditetapkan secara detail serta hubungan yang tidak didasarkan atas hubungan pribadi (Simarmata, et al., 2022).
Perihal karakteristik dari teori birokrasinya Max Weber adalah:
- Pembagian kerja yang jelas antara anggota organisasi.
- Adanya Hirarki administrasi.
- Sistem berorientasi aturan, yang menggambarkan kinerja pekerjaan.
- Pemisahan harta pribadi dan hak atas jabatan.
- Pemilihan staff dan promosi jabatan sesuai kualifikasi teknis pegawai.
Ralph Davis, membuat konsep Perencanaan Rasional yaitu bahwa struktur organisasi sangat bergantung pada tujuan organisasi. Perspektif perencanaan rasional menawarkan sebuah model yang sederhana dan langsung untuk merancang sebuah organisasi. Perencanaan formal manajemen menentukan tujuan-tujuan organisasi. Tujuan tersebut kemudian dalam urutan yang logis menentukan pengembangan struktur, arus wewenang serta hubungan lainnya (Aromatica & Sudrajat, 2021).
Elton Mayo, yang merupakan tokoh memperkenalkan aspek psikologi dalam organisasi berdasarkan hasil penelitian Hawthorne yang berkesimpulan bahwa dalam rancangan organisasi, para manajer selalu mempertimbangkan akibat terhadap kelompok kerja, sikap pegawai, dan hubungan antara manajemen dan pegawai (Robbins,1990)
Chester Bernard, membuat konsep sistem kerja sama, bahwa organisasi suatu sistem kerja sama dan menekankan manajer berperan utama dalam memperlancar komunikasi dalam organisasi (Jaelani, 2021). Contoh: Terbentuknya struktur eksekutif dalam hal ini kementerian negara seperti kementrian pendidikan, Mentri koordinator kesejahteraan rakyat, TNI POLRI dan Pemerintah Daerah adalah sebuah struktur yang diciptakan dalam organisasi negara Indonesia, dalam rangka menjawab tujuan negaranya yang ada dalam pembukaan UUD 1945 alinea ke – 4.
Douglas McGregor, yang menyatakan bahwa ada dua pandangan tentang manusia yang pertama pada dasarnya negatif (teori x) yang lainnya adalah positif (teori y).
Berdasarkan Teori X, manajer memiliki empat asumsi:
- Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan, jika memungkinkan, akan berusaha menghindarinya.
- Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipaksa, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
- Karyawan akan menghindari tanggung jawab dan mencari arahan formal jika memungkinkan.
- Sebagian besar pekerja mengutamakan keamanan di atas semua faktor lain yang terkait dengan pekerjaan dan akan menunjukkan sedikit ambisi.
Berbeda dengan pandangan negatif terhadap manusia ini, McGregor mencantumkan empat asumsi lain yang disebutnya Teori Y:
- Karyawan dapat memandang pekerjaan sebagai sesuatu yang sama alaminya dengan istirahat atau bermain.
- Manusia akan menjalankan pengarahan diri dan pengendalian diri jika mereka berkomitmen pada tujuan.
- Rata-rata orang dapat belajar menerima, bahkan mencari, tanggung jawab.
- Kreativitas—yaitu, kemampuan untuk membuat keputusan yang baik—tersebar luas di seluruh populasi dan tidak selalu menjadi satu-satunya wilayah mereka yang memegang fungsi manajerial.
McGregor berpendapat bahwa Teori Y sebagai asumsi lebih baik dan bahwa mereka harus membimbing para manajer dalam cara mereka merancang organisasi dan memotivasi karyawan mereka (Robbin,1990).
Warren Bennis, yang membuat konsep matinya birokrasi, dimana dia berpendapat bahwa menyatakan bahwa bentuk organisasi yang paling ideal adalah yang fleksibel. Pengaruh dari kekuasaan diganti dengan pengaruh keahlian(Jaelani, 2021).Konsepnya adalah model Adhocracy yang dianggap sebagai antitesis dari birokrasi, adhocracy dibentuk untuk mengatasi masalah dengan cepat dalam organsasi, berisikan orang-orang professional, multi disipliner (Andhika, 2018).
Tokoh seperti Mayo, Bernard dan McGregor dan Bennis sering kali disebut sebagai orang yang membentuk aliran hubungan manusia (Human Relation School) yang memandang organisasi sebagai sesuatu yang terdiri dari tugas dan manusia (Robbins, 1990). Teori ini sebagai kritik terhadap teori-teori sebelumnya yang menekankan pada formalitas hubungan, dengan mengembangkan hubungan manusia yang informal untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif, namun dalam teori klasik ini masih memandang organisasi sebagai sistem yang tertutup.
TEORI ORGANISASI MODERN
Perkembangan zaman menuntut organisasi berubah ke sistem terbuka yang harus mempertimbangkan beberapa aspek dari luar organisasi agar mampu bertahan dalam situasi apapun terlebih saat ini dalam era VUCA yang merujuk pada sifat-sifat Volatile (berfluktuasi), Uncertain (tidak pasti), Complex (rumit), dan Ambiguous (tidak jelas) yang menggambarkan situasi di mana perubahan besar terjadi akibat berbagai faktor, baik yang dapat diprediksi maupun yang sulit diprediksi (Afcarina, Septianza, Faisol, & Isa, 2023).
Teori yang dimungkinkan sesuai dengan era ini adalah Teori Modern, teori modern menurut Robbins(1990: 45-46) dan tokoh yang mempeloporinya adalah:
Herbert Simon, dengan teori Kontijensi (Contingensy) yang menentang teori klasik yang dianggap hanya pepatah dan saling bertentangan sehingga perlu menerapkan kondisi yang saling bersaing. Pandangn Simon ini selanjutnya diikuti oleh tokoh lainnya yang memandang lingkungan dan teknologi sebagai faktor kontingensi (berbagai kemungkinan) yang dapat mempengaruhi organisasi.
Katz dan Kahn, yang menyatakan bahwa organisasi yang efektif perlu menyesuaikan dengan faktor lingkungan dan mampu beradaptasi serta fleksibel dalam pengambilan Keputusan.
Joan Woodward dan Charles Perow, yang menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dalam organisasi yang dipadukan dengan strukturnya.
Aston University, yang memandang besaran organisasi sangat mempengaruhi struktur organisasi.
Prinsipnya mereka ini menyimpulkan bahwa struktur dan metode operasinya merupakan fungsi dari keadaan tempat organisasi itu berada. Mereka tidak menganut pandangan bahwa ada satu cara terbaik untuk merancang organisasi atau bahwa klasifikasi organisasi yang sederhana sebagai formal atau informal, birokratis atau non-birokratis bermanfaat. Mereka menentang mereka yang melihat organisasi sebagai sistem sosial yang saling bertentangan yang membentuk organisasi formal melawan organisasi informal. Mereka tidak setuju dengan mereka yang memaksakan prinsip-prinsip organisasi yang kaku terlepas dari teknologi atau kondisi lingkungan.
Drucker dalam Armstrong (2006:287) menyebutkan bahwa organisasi tercipta melalui pengembangan teknologi baru dan pemanfaatan sumberdaya manusia yang berpengetahuan luas, sehingga tugas seorang manajer bukan satu-satunya pembuat keputusan namun hanya sebagai corong penyampai informasi dan komunikasi yang dianggap kurang jelas.
Bentuk selanjutnya dari teori modern ini memusatkan pada sifat politis organisasi dengan tokoh antara lain:
March dan Simon, menekankan bahwa masyarakat akan memilih alternatif-alternatif yang memuaskan. Dan pada kasus-kasus tertentu Manajer akan memilih dan menyeleksi alternatif yang paling optimal.
Pfeffer, yang menyatakan untuk menciptakan model teori organisasi yang mencakup koalisi kekuasaan, konflik inheren atas tujuan, dan keputusan desain organisasi yang berpihak pada kepentingan pribadi mereka yang berkuasa. Pfeffer mengusulkan agar kontrol dalam organisasi menjadi tujuan, bukan sekadar sarana untuk mencapai tujuan rasional seperti produksi output yang efisien. Organisasi adalah koalisi yang terdiri dari berbagai kelompok dan individu dengan tuntutan yang berbeda. Salahsatu asumsi yang membangun teori ini adalah bahwa organisasi organisasi dapat merespon lingkungan dengan mempengaruhi organisasi lain melalui merger, keptusan untuk merger, diferensiasi dan lobi pemerintah salahsatu contoh bagaimana organisasi merespon lingkungan.
Cibinong, 7 November, 2025.Apid Junaedi
References
Afcarina, R., Septianza, C., Faisol, A. A., & Isa, A. (2023). Manajemen Perubahan di Era VUCA. Jurnal Penelitian Manajemen dan Inovasi Riset, Universitas Trunojoyo Madura, 41-62.
Andhika, L. R. (2018). Dari struktur Birokrasi Tradisional ke Model Adhocracy:Struktur Organisasi Inovatif . Publisia, 11-24.
Armstrong, M. (2006). A Handboook of Human Resource Management Practice. London & Philadelphia: Kogan Page.
Aromatica, D., & Sudrajat, A. R. (2021). Teori Organisasi, Konsep Struktur & Aplikasi. Banyumas: Amerta Media.
Fajariah, M., & Suryo, D. (2020). Sejarah Revolusi Industri di Inggris Pada Tahun 1760–1830. Historia, 77-94.
Gudono. (2017). Teori Organisasi. Yogyakarta: Andi Offset.
Jaelani. (2021). Teori Organisasi. Semarang: Yayasan Prima Agus Teknik.
Laegaard, J. (2006). Organizational Theory. Erie: Ventus Publishing ApS.
Robbins, S. P. (1990). Organizational Theory Structure, Design and Applications. New Jersey: Prentice Hall.
Simarmata, H. M., Simarmata, N. I., Handiman, U. T., Ismail, M., Putro, G. S., Lie, D., . . . Nugroho, A. (2022). Teori Organisasi dan Manajemen. Yayasan Kita Menulis.